2captcha
Showing posts with label Advertising. Show all posts
Showing posts with label Advertising. Show all posts

TSU Media Sosial yang Memberi Keuntungan bagi Pengunanya

Posted by http://advertisingfashionfurniture.blogspot.com Sunday, 30 November 2014 0 comments
ADVERTISING | FASHION | FURNITURE | TSU Media Sosial yang Memberi Keuntungan bagi Pengunanya

#tsunation
Apa itu Media Sosial TSU?, media sosial yang membayar apapun aktivitas sosial pengunanya, untuk pendaftaran pada media yang baru diluncurkan ini sama saja dengan media sosial yang lainnya alias gratis tanpa dipungut biaya apapun. Namun perbedaan yang mencolok dengan media sosial pendahulunya seperti Twitter, Facebook, Instagram dan lainnya adalah keuntungan perusahaan dari Iklan yang tampil menjadi milik perusahaan, namun pada media sosial TSU pendapatan yang didapatkan dari sponsor maupun partner dibagikan kepada pengguna mereka sampai 90%. Untuk mendapatkan pembagian keuntungan dari TSU cukup mudah, hanya dengan update status, upload foto, berkomentar maupun mengundang teman untuk ikut menggunakan TSU. Setiap apapun yang kita lakukan pada media sosial manapun merupakan sebuah konten yang bernilai yang menarik para pemasang iklan maupun sponsor pada media sosial, namun keuntungan dari konten tersebut tidak diberikan kepada kita sama sekali, Kita hanya disuruh untuk update status sebanyak-banyaknya, upload foto narsis tanpa bayaran, jadi komentator pada status teman tanpa keuntungan apapun, padahal semua itu adalah konten berharga bagi perusahaan Social Network. Namun pada media sosial TSU ini mereka memberikan 90% nilai konten berharga tersebut kepada kita kembali. 


Berikut ini langkah-langkah yang perlu diperhatikan untuk berintegrasi didalam media sosial TSU.

  • Pasang konten yang menarik dan berkualitas, hal yang kita sajikan dalam upload konten benar-benar dapat dinikmati penguna media ini, dan tidak mengirimkan sampah/spam!
  • Gunakan (#)hastags dalam postingan untuk membantu orang dalam menemukan postingan kita.
  • Mencari (#)hastags di kotak pencarian untuk hal-hal yang menarik bagi kita, seperti : #car # fotografi dll.
  • Berbagi postingan yang kita minati dengan penguna lainnnya.
  • Mengikuti orang-orang yang membuat posting yang menarik menurut kita. Orang yang kita ikuti akan melakukan hal yang sama dengan kita.
  • Mengajak teman untuk bergabung dengan TSU dan mereka akan membawa lebih banyak teman dan jaringan sosial akan tumbuh.
  • Bagian yang penting adalah berinteraksi dengan postingan orang lain dengan memberikan komentar, likeing dan shareing, ini adalah situs sosial menuntut kita untuk menjunjung tinggi norma-norma sosial antar pengunanya.
  • Tidak peduli apakah kita membuat hanya satu sen pada TSU di awalnya, nilai itu akan terus bertambah dan kita takkan pernah mendapatkan hal ini di media sosial lainnya. 

Bagaimana Cara Daftar ke STU?

Kunjungi website @ https://www.tsu.co/zofraiwenk, masukkan data pendaftaran seperti media sosial lainnya, Klik sign up & go straight to content.


Baca Selengkapnya ....

Pahit Manis Dunia Periklanan

Posted by http://advertisingfashionfurniture.blogspot.com Thursday, 8 May 2014 0 comments
ADVERTISING | FASHION | FURNITURE | Pahit Manis Dunia Periklanan
Menjadi profesional yang punya prestasi dan sukses dalam meniti karir terbilang enak. Pasalnya dibanding yang lainnya, profesional seperti ini tentu akan memperoleh gaji besar dan fasilitas kesejahteraan yang cukup lengkap. Bahkan kredibilitas dan kompetensi mereka dalam industri kerap diperhitungkan seiring dengan prestasi dan pengalaman yang telah dibuat. Semua keberhasilan itu, tentu akan lebih menyenangkan bila dapat diraih pada usia muda. Barangkali hal itu juga yang dirasakan oleh beberapa kreator di dunia periklanan. 
periklanan
http://gii-onlineshopping.blogspot.com
Tapi, di balik kesuksesan tersebut, seperti umumnya terjadi, mereka juga pernah mengalami pengalaman pahit saat meniti karir dalam industri periklanan, Sebut saja seorang kreatif periklanan yang harus bolak-balik menemui klien untuk meminta persetujuan konsep atau proposal. Parahnya, setelah mendapat persetujuan, ada juga klien yang tidak konsisten. Mereka dengan seenaknya merubah brief yang telah disetujui bahkan berkeinginan menggantinya. Sejauh hal tersebut, selama tidak menganggu proses kerja yang sedang berlangsung, tindakan tersebut dapat dimaklumi mengingat masing-masing klien punya tipikal dan pikiran yang berbeda-beda. Agar hal tersebut tidak sering terjadi, biasanya seorang kreatif periklanan melakukan pendekatan yang berbeda kepada masing-masing klien. Gaya pendekatannya, tergantung dari tipikal dan karakter klien tentunya.
Bahkan sekalipun seorang General Manager sebuah periklanan dapat merasakan hal yang sama, perasaan kecewa dan sedih saat klien tidak menyetujui usulan dan argumentasi yang telah disiapkan dalam upaya membangun brand mereka. Kesedihan tersebut semakin bertambah jika alasan penolakannya karena masalah biaya atau alasan-alasan lain yang bersifat subyektif.
Selain pengalaman yang tidak menyenangkan, para insan periklanan tentunya juga sering menemukan hal-hal yang menyenangkan. Tapi, bagi mereka hal yang paling menyenangkan adalah ketika klien menyadari, mengakui, dan menyetujui usul yang di ajukan.
Adakalanya seorang Creative Director dalam suatu perusahaan periklanan mengalami pengalaman yang maha berat, mulai dari membangun struktur depertemen kreatif hingga meningkatkan kualitasnya. Usaha keras ini berguna untuk semua yang terlibat dan yang terkait dengan bidang kreatif dapat bekerja dengan lancar dan happy. Jadi bisa kita bayangkan betapa beratnya berjuang sendiri membangun sebuah depertemen kreatif.
Macam-macam memang pengalaman para insan periklanan. Hal ini membuktikan mereka tidak hidup dalam dunia yang vakum. Tapi percayalah, selama mereka bisa menghadapi kenyataan tersebut dengan sikap yang bijak, semuanya pasti bisa dihadapi dengan baik, termasuk menghadapi kenyataan terburuk sekalipun.
     


Baca Selengkapnya ....

Antara Emosi dan Konsumsi

Posted by http://advertisingfashionfurniture.blogspot.com Sunday, 13 April 2014 0 comments
ADVERTISING | FASHION | FURNITURE | Antara Emosi dan Konsumsi
ilustrasi emosi dan konsumen
Emotional Quadrants
Emosi ternyata mempengaruhi kebiasaan konsumsi. Seseorang yang sedang kecewa bisa saja melampiaskan kekecewaannya itu dengan makan enak di restoran, mabuk-mabukan, atau bagi umumnya perempuan, berbelanja secara kompulsif. Penelitian yang membuktikan hubungan antara emosi dan konsumsi ini sudah berlangsung sekitar dua dekade terakhir.
Setiap orang memang memiliki rentang emosional yang bisa menjadi sangat bahagia atau senang, hingga menjadi sangat sedih atau kecewa. Meski umumnya tak banyak yang berada di kedua ekstrim itu, Larsen dan Diener (1987) menemukan bahwa umumnya 30 persen hingga 50 persen konsumen berada di atas atau di bawah angka tengah dari kedua ekstrim itu.
Hal yang penting semacam kehilangan pekerjaan atau perceraian, atau hal positif yang juga penting seperti kenaikan pangkat atau perkawinan, dapat menimbulkan peralihan dari nilai tengah dari kedua ekstrim tersebut dalam waktu yang cukup panjang. Sementara hal-hal kecil yang menyenangkan atau menyebalkan seperti iklan yang menarik atau wiraniaga yang mengesalkan, hanya mempengaruhi emosi dalam waktu beberapa menit. 
Emosi yang tercipta mempengaruhi sejumlah respon koqnitif seseorang, seperti dalam pembentukan sikap dan recall. Juga mempengaruhi perilaku konsumsi seperti impulse buying, kreatifitas dalam mengkonsumsi dan tindakan inovatif. Hal ini dipengaruhi oleh norma-norma budaya seseorang. Meskipun secara emosional tertekan, misalnya, tidak banyak perempuan Indonesia yang mabuk-mabukan, karena norma-norma budaya tidak mendukung hal itu.
Menyadari kenyataan semacam ini menjadi penting untuk mengetahui bagaimana emosi mempengaruhi efektifitas iklan. Edell dan Burke (1987) memperlihatkan bahwa perasaan (feeling) yang dibangkitkan oleh suatu iklan merupakan suatu konsep yang berbeda dengan pemikiran (thoughts) mengenai iklan, keduanya sama pentingnya dan berkontribusi secara unik dalam menjelaskan dampak dari iklan.
Ini berarti perasaan (mood) seseorang dan pemikiran (kognisi) bisa saling mempengaruhi saat seseorang menikmati dan merespon pesan-pesan iklan. Disini ternyata orang yang tidak memiliki pendekatan yang sama dalam melakukan respon emosional terhadap suatu iklan. Iklan yang bagi seseorang yang terasa menarik, bagi orang yang lain bisa saja membosankan.
Perasaan ternyata dapat terbentuk karena pengaruh berita atau program di mana iklan itu dipasang.

Kuadran Emosi
Untuk mengetahui kondisi yang mungkin dari emosi konsumen, Hirschman dan Stern (1999) mencoba memetakan kondisi emosi seseorang dalam empat kuadran :
(1). Konsumsi Tenang (Calm Consumption). Kuadran A mewakili kandungan emosi dengan afeksi positif dan arousal rendah: Kepuasan, ketenangan, dan ketentraman. Umumnya konsumen hidup direntang emosi ini dari waktu ke waktu. Dalam konteks ini konsumen akan bersifat loyal terhadap merek berdasarkan kepuasan terhadap produk atau jasa yang mereka konsumsi. Karena level arousal rendah, mereka tidak memiliki energi untuk bertualang dan mencari variasi dalam kegiatan konsumsi. Kecendrungannya mereka juga tidak terlalu suka meloakukan komplain ataupun menyatakan rasa tidak puas secara terbuka.
(2). Konsumsi Aktif. Di kuadran B ada sejumlah perasaan semacam, exuberance, delight, ecstasy dan elation, yang terpengaruh level arousal yang tinggi dalam rentang emosi positif. Karena kondisi mental berpengaruh terhadap penciptaan kegembiraan dan berhubungan dengan stimulus dari aktivitas fisik dan kognitif, maka banyak konsumen yang mengalami emosi positif yang kuat akan merasa secara mental dan fisik sangat enerjik. Konsumen yang berada dalam kuadran ini akan bersifat otimistis terhadap perilaku konsumsi dan antusias dalam upaya mengalami hal-hal yang menyenangkan.
(3) Konsumsi Pasif. Memasuki kuadran C, Konsumen yang berada di kelompok ini mengalami level arousal yang rendah dilengkapi dengan emosi yang negatif. Kuadran ini mewakili emosi ketidakberdayaan, melankolis dan putus asa, sehingga dapat disebut juga sebagai konsumen sedih, yang bereaksi sebagai konsumen pasif. Konsumen dalam status emosi semacam ini tidak mempunyai banyak pilihan dan bersifat sangat pesimistis terhadap kegiatan konsumsi. Mereka cendrung tidak suka mencoba produk atau jasa yang baru dan sangat rendah kemungkinannya mencari variasi produk. Karena itu mereka cendrung akan menjadi loyal terhadap merek yang mereka pergunakan serta pola belanja yang biasa mereka lakukan.
(4) Konsumsi Pemarah. Selanjutnya di kuadran D kita memasuki tingkat arousal yang tinggi dimana emosi sangat terganggu bahkan sampai ketahap paranoia. Meskipun demikian, kondisi marah dan ketidaknyamanan bisa membangkitkan dorongan untuk melakukan konsumsi terhadap produk yang dianggap dapat membuat mereka tenang. Misalnya, saat mengalami penundaan penerbangan, mobil mogok, restoran mahal namun layanannya sangat buruk, dan seterusnya. Kondisi semacam ini cukup sering terjadi, ketika konsumen menjadi sangat marah, dan bahkan memaki pelayan atau petugas jasa yang melayaninya. Kondisi emosi yang marah dan paranoia semacam ini pula yang mendorong orang melakukan konsumsi obat-obatan, alkohol, makan dan berbelanja secara berlebihan.

Baca Selengkapnya ....

Merebut Konsumen di Toserba

Posted by http://advertisingfashionfurniture.blogspot.com Wednesday, 12 March 2014 0 comments
ADVERTISING | FASHION | FURNITURE | Merebut Konsumen di Toserba
http://gii-onlineshopping.blogspot.com
Ketika Desert Spice, produk parfum Revlon muncul di Indonesia, maka perusahaan itu merancang point of sale (POS) yang menarik perhatian, dilengkapi dengan demo perawatan kecantikan.
Saat produk itu masuk ke Indonesia, Cindy Crawford baru saja menjadi bintang iklan Revlon. Model terkenal itu yang kecantikannya menjadi idaman banyak wanita dan pria, dengan alasan yang berbeda-beda tentu saja diharapkan dapat mendorong konsumen menjadi pembeli produk setia Revlon.
Maka, saat Desert Spice diluncurkan, fotonya yang besar terpajang di gerai (outlet) Revlon. Dengan penampilan foto Cindy yang dominan itu, maka pengunjung tidak bisa pasti tertarik untuk memperhatikan ataupun singgah di gerai Revlon. Dilengkapi pula dengan demo kecantikan, maka Revlon pun dapat memperkenalkan produknya langsung kesasaran. 
Ini memperlihatkan bahwa POS sangat penting untuk diperhatikan, Pemasar yang akan meluncurkan produk baru, pasti akan mempersiapkan materi POS agar produk yang dijual dapat tampil dan menarik perhatian khalayak sasarannya. Dan semuanya ini dimulai dari kemasan, rak, poster hingga cara menjajakan produk.
Menurut Michael Wahl, Chairman Howard Marlboro Group (HMG), dekade terakhir abad ini memperlihatkan pentingnya memenangkan pertempuran di gerai dan pertokoan. "Orang kini kian terburu, keputusan untuk membeli produk saat berada di toko terus meningkat" katanya.
Dengan mengolah secara serius seluruh aspek POS, maka pemasaran produk dapat ditingkatkan. Kasus produk pantyhose L'eggs dapat menjelaskan hal itu. Produk yang ditujukan pada wanita itu terbungkus dalam kemasan berbentuk telur -sesuai dengan namanya- dan telah bertahan di pasar selama lebih dari 20 tahun. Bentuknya yang unik menjadikannya sebagai bentuk kemasan terkenal seperti halnya botol orisinal Coca-Cola.

Berawal dari Kemasan
Namun di pertengahan tahun 1991, L'eggs memutuskan untuk mengubah kemasannya yang sangat terkenal itu. "Dengan menjaga bentuk telur yang telah sangat dikenal, dalam upaya merespon preferensi konsumen terhadap kemesan yang lebih progresif, kontemporer dan memudahkan (konsumen) dalam berbelanja." begitu siaran pers L'eggs.
Kemudian dilanjutkan, "Sebagai manfaat tambahan, kemasan yang baru akan dibuat dari karton sehingga dapat didaur ulang, begitu pula dengan seluruh material produknya."
Semuanya ini dilakukan setelah L'eggs menhgadapi serangan serius dari kompetitor, pengecer dan kebiasaan baru darikonsumen. Masalah memang mulai muncul sejak proses produksi hingga ia dipasarkan di gerai toko. Itu antara lain meliputi :
  • Terbatasnya tempat bagi grafis desain karena bentuk telurnya untuk dapat menjelaskan merek, warna dan ukuran produk.
  • Karena bentuknya pula maka sulit untuk membaca label jika L'eggs diletakkan di bagian bawah rak.
  • Efisiensi penggunaan ruang saat pengiriman dan displai menjadi berkurang.
  • Plastik menimbulkan kesan berdampak negatif terhadap lingkungan.
  • Tak mampu mengemas produk secara otomatis.
  • Biaya material yang tinggi.

Sebelumnya, hal itu masih belum menjadi masalah besar karena penjualan masih cukup tinggi dan pesaing yang lebih agresif belum banyak bermunculan. Namun perubahan itu harus dilakukan demi sebuah kata : "Shoppability."  

Untuk melakukan perubahan mendasar bagi L'eggs, maka HMG melakukan apa yang disebut sebagai audit foto. Beragam jenis kemasan diperhatikan dan diteliti."Tak hanya kemasan hoisery namun segala jenis kemasan. Dari sana ternyata tak satupun yang dapat memberikan gambaran uang cocok bagi kemasan L'eggs.
Alhasil harus dirancang suatu desain yang sederhana, sebuah kemasan karton yang dapat mencapai objektif yang ditetapkan. Dengan pendekatan semacam ini berhasil diperoleh delapan bentuk kemasan, yang kemudian diuji melalui suatu fokus group. Berdasarkan hasil fokus group itu jumlah kemasan yang terpilih menjadi bertambah kecil. Hasilnya kemudian kembali diuji melalui laboratorium pengujian situasi pasar. Ini dilakukan untuk mengetahui bagaimana kebiasan dan reaksi konsumen terhadap kemasan yang disusun di tempat displai.
Suatu pengujian volumetrik dilakukan untuk mengetahui efisiensi kemasan dalam pengiriman maupun saat didisplai digerai-gerai. Konsumen ternyata memilih kemasan yang baru dengan perbandingan dua banding satu. Mereka juga menyebutkan atribut khusus yang menurut mereka sangat membantu :
  • Mudah dalam berbelanja.
  • Secara keseluruhan berkesan menarik.
  • Cocok dan tak menghilangkan karakter L'eggs.
  • Menyimbolkan produk berkualitas tinggi.
  • Bersahabat dengan lingkungan.

Hampir dua pertiga konsumen yang diselidiki menyatakan bahwa desain kemasan baru memudahkan dalam berbelanja. Lebih 90% konsumen bahkan merasakan pentingnya material yang dapat didaur ulang. Namun terobosan yang sesungguhnya terletak pada bentuk kemasan yang memungkinkan kami mencetak informasi dikubah kemasan baru.

Dalam kemasan baru, informasi produk dapat disampaikan melalui huruf-huruf yang mudah dibaca. Dengan demikian konsumen dapat mengetahui warna dan model produk dengan mudah. Di sisi lain, terebosan yang dilakukan tidak keluar dalam strategi penjualan toko; bahwa: nama, kemasan dan displai dapat bekerja sama sebagai suatu kesatuan. Maka L'eggs berhasil tampil lebih segar, berwawasan ke masa depan dan berhasil menarik perhatian konsumen, sehingga kembali tetap digemari. Begitulah kiat yang dilakukan dalam memenangkan pertempuran di gerai pertokoan. |cakram media indonesia|



Baca Selengkapnya ....

Proses Pembuatan Iklan yang Baik

Posted by http://advertisingfashionfurniture.blogspot.com Saturday, 8 March 2014 0 comments
ADVERTISING | FASHION | FURNITURE | Proses Pembuatan Iklan yang Baik
stabilo
http://www.vector-eps.com
Secara mendasar, sebelum membuat sebuah kampanye periklanan, sebuah biro iklan harus mengetahui, mendalami, dan menguasai marketing mix dari sebuah produk, merek, atau jasa yang akan diiklankan. Karena, sebuah iklan selalu dan harus berawal dari produknya sendiri.
Pengetahuan akan 'Product/Brand Information' sangatlah dibutuhkan. Fungsi dan kegunaannya, harganya, kelebihan dan kekurangannya, status, pesaing, daerah distribusi, dan siapa sasaran pemakainya. Pengetahuan tentang keadaan pasar, tren yang berlaku, pelaku-pelaku pasarnya, persaingan, siapa saja pemakai dan calon pemakainya.
Pengertian dan analisa yang mendalam dari sasaran pakainya. Bukan hanya secara geografi dan demografinya saja, akan tetapi juga dari segi psikologi ditambah dengan pengetahuan tentang kebiasaan-kebiasaan mereka sehari-hari. Semakin spesifik targetnya, akan semakin fokus mengkomunikasikan pesan yang akan disampaikan.
Positioning dari produk tersebut haruslah di identifikasikan secara cermat dan spesifik, dengan mengkaitkannya dengan sasaran pasarnya.
Setelah keseluruhannya dikuasai, barulah kreatifitas yang tinggi dan terarah dapat berperan. Kreatifitas tidak saja hanya dibutuhkan dalam hal berkreasi ( design, layout, script, production, etc ), tetapi juga dibutuhkan dalam pemilihan media untuk pemuatan iklan yang bersangkutan. sehingga akan tercipta sebuah iklan yang efektif, efisien, dan tepat sasaran.

Biaya atau Investasi
Ada perbedaan pendapat antara beriklan merupakan beban biaya atau merupakan investasi. Banyak teori yang berkata bahwa beriklan bukanlah merupakan biaya; tetapi pihak lain mengatakan bahwa beriklan adalah biaya. Bagi seorang akuntan, beriklan adalah biaya, sedangkan bagi seorang manajer pemasaran, beriklan mungkin dilihat sebagai investasi. Tinggal dari kacamata mana kita melihatnya.
Jika ditelaah kata biaya ( expense ) dan investasi, maka dapat dijabarkan secara umum bahwa perbedaan yang mencolok dari kedua istilah tersebut :
Biaya - dana yang dikeluarkan sekarang untuk menghasilkan 'penjualan' dan yang 'hasilnya' harus dapat dirasakan secara cepat dan langsung.
Banyak advertiser, yang jika usahanya mengalami penurunan, akan langsung memotong/berhenti beriklan, sebagai ' penghematan' biaya. Akan tetapi, besar kemungkinan 'penghematan' tadi malahan akan mempercepat penurunan usahanya.
sedangkan investasi adalah dana yang ditanamkan sekarang. untuk kini atau keuntungan dimasa mendatang. Maka dalam hal ini, perencanaan anggaran beriklan haruslah betul-betul direncanakan, sejalan dengan objektif dan strategi pemasaran, dan dengan situasi dan kondisi yang terkait dengan kategori produknya.
Iklan memang dapat mengurangi keuntungan, akan tetapi iklan dapat merupakan faktor penunjang dan penentu pada keuntungan yang besar. Sedangkan dari kacamata konsumen ( penerima berita ). Iklan dapat dilihat sebagai faktor yang menyebabkan harga sebuah produk/jasa menjadi mahal. Hal ini dapat terjadi apabila kepuasan mereka tidak terpenuhi dan barang atau jasa yang ditawarkan tidaklah seperti yang diiklankan.

Baca Selengkapnya ....

Peran Periklanan dalam Pemasaran

Posted by http://advertisingfashionfurniture.blogspot.com Friday, 7 February 2014 0 comments
ADVERTISING | FASHION | FURNITURE | Peran Periklanan dalam Pemasaran
Periklanan sangat berperan didalam distribusi pemasaran dewasa ini, yang kondisinya sudah over communicated. Sebagai bauran promosi dalam bauran pemasaran, maka jasa periklanan akan selalu dibutuhkan. Melihat kebutuhan tersebut, maka jasa desainer grafis sebagai bagian dari pelaku dalam jasa periklanan, harus memiliki wawasan dan pandangan yang luas dalam masalah pemasaran. Diharapkan dengan hal tersebut maka seorang desainer grafis mampu mengantisipasi kemajuan-kemajuan dalam bidang pemasaran. 


Seperti diketahui bahwa periklanan adalah merupakan bauran dari promosi (promotion mix), dimana promosi adalah jalur distribusi pemasaran. Artinya suatu pemasaran produk tertentu akan selalu menggunakan bauran promosi sebagai media untuk menghubungkan produsen dengan konsumen. Sebagai media penghubung, maka periklanan dapat juga dikatakan sebagai ujung tombak komunikasi pemasaran. Mengapa demikian?, Pertama karena subuah iklan dibuat untuk mengkomunikasikan citra yang dimiliki oleh satu perusahaan/produk bukan hanya menaikkan angka penjualan. Citra adalah aset yang paling berharga; yang seringkali menjadi faktor penentu keputusan membeli. Kedua iklan membentuk anggapan dalam benak konsumen tentang satu produk/perusahaan, karena iklan menguraikan fakta-fakta, bukan janji-janji. Ketiga iklan membangun positioning. Positioning adalah satu proses untuk menempatkan suatu produk, merek, perusahaan, individu, atau apa saja dalam alam pikiran konsumen.


Dari uraian ditas dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa peran periklanan dalam satu pemasaran produk/jasa sanggatlah penting. Karena dengan jalur promosi tersebut, satu produk/jasa dapat sampai kepada konsumen dengan jelas, yakin akan kegunaan dan kelebihan produk/jasa dan konsumen merasa terpenuhi kebutuhan serta harapannya.

Perencanaan Kreatif dan Media Periklanan.

Setelah mengetahui hubungan antara periklanan dengan pemasaran, maka langkah selanjutnya adalah mengenai perencanaan kreatif dan media periklanan. Langkah ini dirasa perlu karena perencanaan ini adalah hal yang menjelaskan hubungan tersebut.
  • Perencanaan Kreatif Periklanan bagi Pemasaran : Kalau kita berbicara soal komunikasi kreatif pada dasarnya pendekatan yang dilakukan harus berpedoman pada pendekatan "5W" yaitu : Who, What, Whom, Which, What effect Siapa yang mengatakan apa kepada siapa, melalui saluran/media apa dan dampak apa yang diinginkan ) Pendekatan ini memudahkan kita untuk menganalisa pasar sasaran dan menentukan strategi komunikasinya. Pendekatan ini harus ditunjang pula dengan kondisi produsen yang akan diiklankan. Maka kita harus melakukan observasi yang mencakup : a. Bagaimana Tahap dan Perkembangan Produsen? : Pioneering. Apakah industrinya masih dalam tahap dini, artinya produknya baru. Competitive. Pada tahap ini pasar telah berkembang akan tetapi pesaing sudah mulai banyak sehingga strategi pangsa pasar dan positioning menjadi penting. Retentive. Pada tahap ini pasar sudah jenuh sehingga perlu diadakan peremajaan atas produk. : b. Siapa Pesaingnya? : Disini kita harus mengkaji apakah pesaing yang lebih dulu ada dipasaran sudah established atau belum, apakah produknya berkualitas, siap pemakainya, mengapa mereka, bagaimana distribusinya, seberapa berkualitas dan gencar iklannya. : c. Siapa Calon Konsumen Kita : Hal yang harus dikaji adalah tentang ciri karakteristik calon sasaran konsumen, motivasi dan pola belinya. : d. Apa Kelebihan Produk Kita? : Apabila semua telah dikaji maka tahap terakhir adalah menganalisa produk kita, pertama : Apakah produk kita punya USP ( Unique Selling Proposition ) atau kelebihan dibanding  pesaingnya, Kedua : Apakah produk kita dibutuhkan, Ketiga : Bagaimana peluang produk kita di pasar. Hal yang penting dalam proses perencanaan kreatif periklanan adalah menentukan positionong. Hal ini sangat penting sebab dalan era pemasaran dewasa ini, kondisi pasar sangat kompetitif. Konsumen setiap harinya disodori bermacam-macam informasi sehingga kondisi pasar menjadi over communicated. Formulasi positioning didapat dari gaya hidup dan perilaku konsumen yang bersifat psikologis.
  • Perencanaan Media Periklanan bagi Pemasaran : Perencanaan media periklanan yang baik harus terintegrasi ke dalam seluruh kegiatan pemasaran dari produk yang bersangkutan. Adapun komponen-komponen perencanaan media antara lain : a. Sasaran Media : Sasaran media haruslah dinyatakan dalam kalimat yang jelas, layak dan dapat diukur yang senantiasa mengacu kepada sasaran pemasaran, yang meliputi : a. Intensitas iklan yang dinyatakan dalam satuan ukuran tertentu, misalnya : Jangakauan ( Reach ), Eksposure dan atau tingkat bobot iklan ( Gross Rating Points ). b. Dibatasi oleh satuan waktu ( minggu, bulan atau tahun ). c. Dinyatakan dalam definisi demografis yang jelas ( sex, usia, tingkat sosio-ekonomi dan wilayah ). d. Layak dalam pengertian dapat dicapai. b. Strategi Media : Strategi media merupakan suatu cara yang dipilih untuk mencapai sasaran media. strategi ini meliputi hal-hal sebagai berikut : a. Menetapkan jenis media yang akan digunakan ( Tv, surat kabar, majalah, radio, bioskop, billboard dll ). b. Mempertimbangkan pemilihan media berdasarkan efektifitas jangkauan dan efesiensi dari segi budget untuk menjangkau setiap 1000 khalayak sasaran ). c. Taktik Media : Taktik media disebut juga program media atau implementasi media yang menyangkut hal-hal sebagai berikut : a. Macro Scheduling : Pola intensitas iklan dan periode kompanye. b. Micro Scheduling : Program media Tv dan Radio serta posisi penempatan iklan pada media cetak dan bioskop, ukuran iklan berwarna atau hitam putih serta waktu penayangan. d. Anggaran : Salah satu bagian terpenting dalam perencanaan media adalah anggaran atau sejumlah dana yang layak untuk menyelenggarakan kegiatan periklanan. Anggaran disebut layak apabila dapat memenuhi salah satu kriteria berikut ini : a. Anggaran yang di alokasikan harus cukup untuk mencapai sasaran periklanan/pemasaran. b. Anggaran yang dialokasikan dapat memenuhi suatu tingkat keuntungan yang maksimum terhadap produk yang diiklankan.
Gambaran diatas merupakan konsep-konsep dasar pemasaran dan kaitannya dengan periklanan, ( al ries dan Jack Trout, Positioning, the Battle for Your Mind, New York Mcgraw Hill, 1981, 31 ).   





Baca Selengkapnya ....

Strategi Hunting Client

Posted by http://advertisingfashionfurniture.blogspot.com Sunday, 19 January 2014 0 comments
ADVERTISING | FASHION | FURNITURE | Strategi Hunting Client
lingkaran
http://logos.co

apa itu client?...Client adalah pelanggan. Menurut pendapat umum, client adalah raja. merujuk kepada pendapat David Ogilvy, dengan strategi yang kita kenal antara lain :
  1. Bagaimana mencari pelanggan.
  2. Bagaimana mempertahankan pelanggan.
  3. Bagaimana menjadi langganan yang baik.
Disini ditekankan bahwa mencari klien/hunting client adalah merupakan keterlibatan antara agency dengan klien. Bagi agency sendiri, ada beberapa syarat yang harus dipenuhi, yaitu:

  • Harus punya penghubung yang kuat dengan klien. Dalam hal ini peranan seorang AE ( Account Executive ) dituntut untuk energik, mempunyai kemampuan lobying yang kuat dan tentu saja kualitas yang handal. Dalam benaknya hanya ada satu tekad, "saya harus mendapatkan klien ini".
  • Harus punya tim kreatif yang jitu. Dewasa ini banyak biro iklan besar mengalami keadaan "mati enggan dengan hidup tidak mampu" alias sekarat. Salah satu sebabnya adalah departemen kreatif-nya hanya menghasilkan iklan-iklan rutin yang membosankan, namun merasa diri tetap besar oleh keberhasilan yang pernah diraih sebelumnya.
  • Penempatan Media yang ampuh. Seorang media planner yang jeli. harus dapat secara efektif menyusun budget periklanan sesuai dengan kondisi klien. Faktor-faktor pendukung seperti data-data pasar, produk, ataupun hasil riset yang diperlukan dalam menyusun strategi pendekatan harus dapat dipertanggung jawabkan kepada klien.
Mari kita buka hati dan pikiran yang jernih. Secara sederhana, sesungguhnya selama ini kita berperan sebagai "salesman". Sebagai salesman yang baik, kita harus tahu karakter pelanggan kita, termasuk pula kesenangannya. Kalau klien kita suka musik, kita harus melakukan pendekatan lewat musik. Kalau golf yang dia minati, kitapun harus mengikutinya. Jangan pernah kita bicara hal-hal yang tak disukai klien kita. "Salesman yang baik, harus selalu berpedoman kepada prinsip-prinsip :
  1. Jika kita baik selaku salesman atau AE tidak mempunyai waktu untuk menjual/hunting maka orang lainpun tidak punya waktu untuk membeli/menjadi klien kita.
  2. Jika kita tidak yakin dengan apa yang kita jual/sajikan, maka sulit bagi orang lain untuk juga yakin seperti yang kita harapkan.
  3. Jika kita gagal mempersiapkan, maka berarti pula kita telah mempersiapkan kegagalan.
  4. Kita harus melakukan segala hal yang kita inginkan secara mati-matian. Try, try again and tray some more.
  5. Keberhasilan tak pernah datang sendirinya.
  6. Jangan takut gagal, dan jangan melakukan kegagalan yang sama.

Dari pengalaman, maka klien yang sudah kita dapatkan harus dijaga dengan baik dengan cara yang profesional, dalam pengertian bahwa pelayanan kita dapat dipertanggung jawabkan. Yang diperlukan oleh biro iklan adalah 'motor penggerak' yaitu kemampuan untuk berkreasi, ambisi yang konstruktif, dan gairah. Akhirnya, keberhasilan tak dapat terbendung. Selamat bekerja, hari esok harus kita hadapi dengan optimisme yang tinggi.



Baca Selengkapnya ....

Memahami Karakter Huruf

Posted by http://advertisingfashionfurniture.blogspot.com Friday, 10 January 2014 0 comments
ADVERTISING | FASHION | FURNITURE | Memahami Karakter Huruf
kalimat
Tipografi
Huruf yang terangkai di papan-papan iklan pasti tidak akan dibuat ruwet. Soalnya akan dilihat dari kejauhan, terlebih lagi dari mobil yang terus bergerak, huruf-huruf itu harus segera terbaca. Tak ada gunanya bergenit-genit jika pesan yang disampaikan justru tidak terbaca. Itu salah satu alasan kenapa pemahaman terhadap karakter tipografi menjadi penting. Tak hanya untuk papan iklan, tapi juga dengan media iklan lainnya seperti poster, profil dan laporan tahunan perusahaan, kemasan, kalender, majalah dan surat kabar, hingga iklan. Begitu kuatnya karakter yang dimiliki oleh sebuah iklan dengan hanya menampilkan sederetan huruf. Ini berarti tipografi dapat berdiri sendiri untuk menyampaikan sebuah pesan dan sekaligus menarik perhatian. Sebaliknya iklan akan menjadi gagap pesannya jika hanya sekedar menampilkan gambar, tanpa dukungan huruf atau kalimat. Karena tanpa rangkaian kalimat iklan itu dapat disalahtafsirkan, sehingga pesan yang ingin disampaikan tak dapat diterima dengan baik.
Perkembangan tipografi sendiri telah dimulai sejak abad kelima sebelum Masehi. Karena itu tak heran jika jumlah huruf menjadi berbagai ribuan jenis. Huruf yang ada digolongkan dalam sebuah keluarga (family) dan tiap-tiap keluarga terdiri dari puluhan jenis huruf. Meski kadang beberapa jenis huruf yang masih dalam satu keluarga hampir tak terlihat bedanya. Coba perhatikan jenis huruf Caslon dengan jenis Baskerville, hampir tidak terlihat bedanya. Itu adalah dua dari sepuluh jenis huruf yang paling populer versi Graphics Press Corp, Zurich. Jenis huruf populer lainnya misalnya Bodoni, Garamond, Franklin Gothic, Futura, Univers, Goudy, News Ghotic dan Gill Sans.
Dalam sejarah tipografi, huruf yang pertama kali dikenal adalah jenis Greek lapidary. Huruf ini dikembangkan dari alfabet Phoenisia yang telah ada sejak abad kelima sebelum Masehi. Huruf ini kemudian berkembang menjadi huruf yang dikenal dengan nama Roman. Jenis inilah yang disebut-sebut sebagai basis dari huruf yang dikembangkan oleh para desainer di negara-negara barat.

Memahami Karakter

Munculnya komputer grafis menjadikan kemungkinan tipografis menjadi lebih besar. Berbagai jenis huruf telah disimpan dalam program komputer dan tinggal dipilih menurut selera si pemakai. Ini memudahkan semua orang, namun mengakibatkan banyak orang yang tak memahami dasar-dasar tipografis dan desain, merasa dirinya telah menjadi seorang desainer.
Karakter huruf memang menjadi hal yang sangat penting dalam tipografi. Hal itu misalnya terlihat dalam iklan sepatu Nike. Terkenal dengan produk sepatu yang sangat dinamis, iklan-iklan Nike memang dibuat seperti bermain-main, namun serius. Dalam upaya untuk berkomunikasi kepada Generasi-X, kelompok konsumen muda di AS, maka sebagian iklan-iklan Nike dirancang mendekati grafis. Dengan demikian permainan kata dan huruf menjadi penting. Dalam iklannya Nike, seri Air Adventure II, kita dapat melihat huruf-huruf yang saling bertumpuk, tak sama besarnya, namun dengan demikian dapat menciptakan irama. Menggunakan huruf Canadian Photographer, tumpukan huruf itu nampaknya menjadi medium yang pas untuk berkomunikasi dengan generasi-X, yang memiliki pola komunikasi tersendiri. Dan sekaligus ini memperlihatkan bahwa Nike berusaha berbicara dengan bahasa khalayak yang sedang diincarnya.
Dengan berkembangnya dunia Desain Grafis menjadikan generasi tipografi saat ini menjadi radikal. Banyak desainer tak lagi berpedoman pada kaidah-kaidah yang dipakai para pendahulunya. Banyak sistem yang telah mapan justru dijungkirbalikkan. Sebagai contoh, kalau dulu anatomi huruf itu jika sudutnya berbentuk kotak, maka semuanya harus sama. Tapi kini tidak selalu begitu, boleh digabung dengan yang bulat. Generasi sekarang beranggapan bahwa desain bukan sekedar kebutuhan, tetapi juga harus menghibur dan menyenangkan. Meski akibatnya mereka sering tak disukai generasi pendahulu karena dianggap sebagai perusak tipografi konvensional. Namun yang penting untuk disadari, pembaharuan haruslah dilakukan oleh mereka yang memang memahami kaidah tipografi. Dan bukan sekedar oleh para amatir yang senang mengotak-atik kemampuan komputer. Sikap semacam ini antara lain dilakukan kelompok Emigre yang dipelopori Rudy Vanderlans. Bersama isterinya yang juga desainer, Suzzana Licko, ia melakukan berbagai eksperimen tentang jenis-jenis huruf. Karya-karyanya kini disimpan di museum desain London. " Respon saya yang spontan melahirkan sesuatu yang belum pernah didesain sebelumnya," ujar Vanderlans. Nampaknya generasi baru desainer masa kini berusaha mengikuti aliran kontenporer ini. Bebas melakukan pencarian berdasarkan konsep dasar tipografis. Didukung oleh teknologi komputer, pencarian mereka pun lebih bebas. Kadang mereka menciptakan jenis huruf yang sulit untuk dibaca, dibuat kecil-kecil atau bertumpuk-tumpuk. Selama didukung dengan konsep maka itu adalah hal yang wajar. Hal itu semata dilakukan bukan untuk mengajak pembaca berkerut kening, namun untuk menarik perhatian dan mengajak pembaca agar mau memahami pesan yang ingin disampaikan.|Cakram|
   

Baca Selengkapnya ....

Gaya Hidup Kaum Eksekutif

Posted by http://advertisingfashionfurniture.blogspot.com Tuesday, 10 December 2013 0 comments
ADVERTISING | FASHION | FURNITURE | Gaya Hidup Kaum Eksekutif
http://advertisingfashionfurniture.blogspot.com
Kalau kita cermati bahasa iklan saat ini, akan banyak kita jumpai kata-kata seperti trendy, canggih, gaya eksekutif dan selera ekslusif. Iklan-iklan dengan naskah semacam itu, bisa dipastikan, ditujukan kepada golongan masyarakat yang kerap disebut sebagai golongan eksekutif. Mereka adalah segolongan dalam masyarakat yang memiliki citra tersendiri akibat kedudukan dan status sosial politik yang disandangnya. dari segi karir, mereka menduduki jabatan-jabatan mulai dari manajer hingga CEO, pengusaha, profesional, komisaris dan pejabat tinggi pemerintah.
Keberhasilan pembangunan nasional, khususnya disektor ekonomi, melahirkan golongan menengah atas dikota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Bandung dan Medan. Mereka ini mapan dalam hal pendidikan, pekerjaan, penghasilan dan kedudukan sosial. Hampir semunya memiliki pergaulan yang bersekala internasional. Karena itu, selera internasional mereka nyaris sama dengan selera kaum eksekutif di mancanegara.

Bila dibandingkan dengan jumlah penduduk Indonesia, golongan eksekutif ini kecil sekali. Namun bagi pengiklan adalah penting mengamati gaya hidup, pola pikiran serta pengaruh mereka, karena umumnya mereka merupakan trensetters dan role models bagi warga kota lainnya. Kebutuhan kelompok ini sangat spesifik. Kebanyakan mereka memiliki tuntutan tinggi dalam soal kualitas produk serta pelayanan. Seperti diketahui, para eksekutif ini umumnya berpendidikan tinggi. Banyak di antara mereka yang lulusan sekolah-sekolah tinggi luar negeri. Mereka adalah pekerja keras yang bekerja lebih dari delapan jam sehari. Penghasilan mereka besar, memiliki posisi strategis, punya akses ke pusat-pusat informasi global yang memungkinkan mereka untuk secara teratur meng-up date diri. Dengan kelebihan-kelebihan semacam ini, masuk akal bila kelompok ini menjadi kelompok yang pandangan serta pemikirannya meluas dan mempengaruhi anggota masyarakat lainnya.
Untuk beberapa hal, kecendrungan perilaku dan gaya hidup kaum eksekutif di Indonesia tampaknya sejalan dengan yang berlangsung di negara-negara lain, yang memberikan perhatian dan waktu untuk keluarga dan peningkatan kualitas hidup menjauhi dunia glamor karena kini gaya hidup mereka sudah lebih rasional. Meskipun mereka memiliki kelebihan yang relatif sama, namun kelompok ini bukanlah kelompok yang monolitik. Maksudnya, dalam perilaku, gaya hidup dan selera banyak juga bedanya. Tentu tidak semuanya serba wah. Di antara kaum eksekutif ini memang ada yang begitu menonjol, sering disorot media massa, gaya hidupnya high profile. Mereka inilah yang tergolong trensetters dan role models, dan sering disebut sequent fliers, high shoppers, pelanggan busana mahal dan trendy, memiliki selera khusus dalam soal makanan, ekslusif dalam memilih rumah tinggal, kolektor benda-benda seni yang mahal, suka menikmati musik, serta mementingkan olahraga demi kesehatan dan kebugaran tubuh.

Banyak cara bagaimana kaum eksekutif ini menikmati waktu luang di sela kesibukan kerja yang mendera. Mereka yang masih bujangan alias belum berkeluarga, selepas jam kerja banyak yang melepas ketegangan otot dan otak ditempat-tempat hiburan seperti diskotik, pub, cafe atau restoran-restoran di hotel berbintang. Sambil menikmati makanan dan minuman, mereka mendengarkan musik dan ngobrol-ngobrol dengan mitra bisnis. Kebanyakan yang sudah berkeluarga akan menghibur diri bersama anggota keluarga. Bagi mereka, kehidupan keluarga dianggap nomor satu. Kalaupun pergi ketempat-tempat hiburan umum sendiri, itu karena pesan bisnis. Makan di restoran atau darmawisata ke gunung atau pantai pun dilakukan bersama-sama keluarga. 
Sebagai pasar, kelompok eksekutif memang merupakan pasar potensial. Hal ini mendorong sejumlah pengusaha untuk mengantisipasi peluang bisnis baru. Misalnya usaha properti, restoran keluarga, pub, cafe, toko-toko busana bermerek mewah, klinik kesehatan, tempat fitness, salon-salon berpelayanan khusus, serta klub-klub eksekutif.


Baca Selengkapnya ....

Antara Karya Seni dan Pornografi

Posted by http://advertisingfashionfurniture.blogspot.com Monday, 18 November 2013 0 comments
ADVERTISING | FASHION | FURNITURE | Antara Karya Seni dan Pornografi
ilustrasi photoshop
webneel.com
Polemik mengenai apa yang disebut foto porno atau foto seni, sepertinya memang tidak akan tuntas disimpulkan untuk memuaskan semua pihak. Apalagi untuk dicari defenisinya secara tegas. Kendati demikian, sebetulnya Departemen Penerangan (Deppen) dahulu pernah memberi batasan yang pasti diketahui seluruh pemimpin redaksi media massa. Dalam aturan itu disebutkan, batasan pornografi pada gambar atau foto terletak pada ditampilkan tidaknya kemaluan, buah dada, serta pusar seseorang. Namun selain tidak konsisten dijalankan (misal : gambar seseorang yang terlihat pusarnya sudah sering kita lihat di berbagai media), oleh banyak kalangan batasan ini justru dipandang absurd dan cendrung melecehkan kesenian.
Ukuran untuk mengatakan suatu gambar porno atau artistik, sangat subjektif. Hal ini sangat berkaitan dengan persepsi masyarakat tentang tubuh. Misalnya jika kita memotret seseorang yang badannya, katakanlah dianggap tidak indah bagi kebanyakan masyarakat sekarang, yakni tubuh yang gemuk, kemungkinan tidak menimbulkan berahi bagi yang melihat. " Apakah ini porno atau tidak? mungkin bukan pornografi kalau ukurannya apakah mengundang berahi atau semacamnya, tapi persoalannya ia kan telanjang?" seorang laki-laki atau perempuan gendut berdiri telanjang, bagi masyarakat kita dipersepsi sebagai sesuatu yang tidak menarik, bahkan mungkin menjijikkan. sementara bisa juga seorang wanita berbaju lengkap justru menimbulkan rangsangan. Jadi ukuran-ukuran itu sangat relatif.
Batasan pornografi biasanya tidak memiliki deskripsi yang jelas. Dia akan punya deskripsi setelah terjadi apa yang disebut keputusan-keputusan pengadilan sebagai preseden. Tetapi pengadilan kita tidak memiliki kapastian hukum, sehingga penerjemahan terhadap apa itu pornografi hampir tidak pernah ada, karena kepastian hukumnya untuk kepentingan tertentu. Jadi tidak ada satu penerjemahan, karena penerjemahan dari pornografi itu terlalu luas, misalnya menurut hati nurani, mengganggu kepentingan umum.
Ada juga yang berpendapat bahwa ketelanjangan itu sangat relatif, tergantung ruang dan waktu. Pada ruang waktu sebelumnya mungkin telanjang dada itu tidak apa-apa. Tapi pada ruang waktu yang lain, telanjang dada dianggap porno. Jadi sejauh mana telanjang atau tidak disebut porno, hal ini sangat subjektif, tergantung pada motif orang yang melihat, serta tentunya tergantung pula pada motif kreatornya. Tapi celakanya ketika itu sudah menjadi komunikasi massa, maka ia akan tergantung kepada orang yang paling berwenang menjelaskan itu porno atau tidak, dalam hal ini kembali pemerintah atau orang yang merasa diri menjadi panutan masyarakat menjadi penentunya.
Jika sebuah karya itu motivasinya memang tidak pornografis, dan masyarakat kemudian menilai itu pornografis karena tokoh atau lembaga yang menilainya porno, disini timbul pertanyaan, adakah motif politik lain? misalnya isu pornografi dipakai sebagai salah satu isu, untuk nantinya mulai lagi pers dibredel, pers dibungkam.
Tentang motivasi di balik ketelanjangan ini, bahwa ada pula ketelanjangan yang digunakan murni untuk kepentingan bisnis, sehingga motivasi maupun pelaksanaannya di pasar sama seperti menjual produk-produk komersial. Ketelanjangan yang digunakan untuk komersial ya begitu. wanita muda, kulitnya putih, dada besar, mukanya dengan prototip tertentu. Nah, media yang demikian juga memuat iklan tentang bagaimana membesarkan payudara, bagaimana mengecilkan perut. Hal semacam inilah yang bisa berdampak destruktif pada masyarakat luas, seperti munculnya rendah diri pada orang-orang tertentu, dia butuh operasi plastik, silikon, dan lain-lain. 
Yang membedakan seni dan porno adalah, seni dapat membuat masyarakat terinspirasi, sedangkan porno tidak. Jika ketelanjangan dimaksudkan untuk mengungkap kepribadian agar orang bisa melihat performance orang itu tanpa hiasan, itulah ukuran seni. Dahulu para pelukis membuat lukisan telanjang dari wanita yang gemuk, yang buah dadanya kecil, tetapi dilikis dengan pose tertentu sehingga muncul kepribadiannya. Ini menyadarkan banyak orang, bahwa sesuatu yang memiliki kepribadian dapat menimbulkan ke indahan., kendati ukuran tubuhnya tidak ideal. Tetapi ia dilukis sedemikian rupa dan ditampilkan kepribadiannya sehingga orang bisa menghargai. Bandingkan dengan ketelanjangan di Playboy, misalnya. Kalau dimajalah ini, tentu postur wanita tertentu saja yang bisa masuk, dan harus sesuai zamannya. Misalnya pada zaman twiggy yang mengidealkan tubuh sangat ramping, kurus, namun sekarang telah banyak bergeser ke tubuh yang montok, tetapi tetap saja ada prototipnya.
Ada juga yang berpendapat, untuk membuat foto yang art, tidak selalu harus jorok atau nude. Dan sangat disayangkan anggapan yang beredar bahwa fotografer akan hebat kalau memotret nude. Ini statment yang menyesatkanHal ini sebetulnya menjadi tanggung jawab para fotografer senior untuk memberikan pengarahan, bahwa anggapan demikian tidak benar, sehingga saat ini banyak diantara pemula hanya turut dalam arus.|foto Media| 


Baca Selengkapnya ....

Bermain Kata dan Sensualitas

Posted by http://advertisingfashionfurniture.blogspot.com Tuesday, 8 October 2013 0 comments
ADVERTISING | FASHION | FURNITURE | Bermain Kata dan Sensualitas
Graphic Explore
ADVERTISING|FASHION|FURNITURE
"Periklanan di Inggris dimulai dengan iklan terus ke hati. Periklanan di Amerika dimulai dari iklan terus ke dompet. Sedang periklanan Prancis dimulai dari hati ke iklan". Kata-kata tersebut keluar dari mulut Jacques Seguela, tokoh kreatif periklanan kondang dari Prancis. Dan nampaknya ia tidak sekedar bicara, iklan-iklan Prancis memang mencerminkan apa yang disebutnya sebagai sensualous, imajinatif kadang gila, bahkan vulgar. Iklan-iklan untuk Georges Rech, perancang busana terkemuka Prancis, misalnya, tampil melalui pendekatan yang boleh dibilang sensual : hangat dan mengoda. Menggunakan model terkenal, Carla Bruni, visualisasi iklannya dibuat sedemikian rupa mencerminkan permainan antara sang model dengan huruf-huruf yang menjadi akronim Georges Rech. Tampil dinamis dan menyentak.
Kesan sensual bahkan tetap tampil, meskipun pesan iklan ingin mengatakan bahwa mobil Citroen Xantia sangat kokoh. Bodinya tetap utuh meskipun ia harus bergulingan di jalan raya. Sungguh imajinatif, dengan ending yang tak terduga. Iklan itu di mulai dengan memperlihatkan sepasang insan yang sedang bercinta di atas sebuah mobil. Demikian hangatnya percintaan mereka, sehingga tak sadar bahwa mobil yang mereka tumpangi sedang berguling-guling. Mereka tetap asyik bercinta. Itulah cara kratif orang Prancis untuk memperlihatkan ketangguhan mobil. 
Imajinasi kemudian memang sangat terasa dalam iklan-iklan di Prancis. Untuk iklan Peugeot 306 Cabriolet, ditampilkan penyanyi buta Ray Charles. iklan dibuka dengan sentuhan lembut sesosok tangan di tubuh mobil yang berwarna merah.
Bersamaan dengan itu lagu terkenal Ray Charles, "Georgia On My Mind," berkumandang. Suatu bird eye view memperlihatkan sosok Cabriolet itu di tengah padang pasir. Dan, cut, Ray Charles di balik kemudi. Penyanyi buta ini nampak senang sekali mengendarai mobilnya di padang pasir Bonnevile, Utah. Kemudian, cut, Ray Charles berhenti dan menghadap ke kamera. "Maukah Anda ikut ke suatu tempat?" katanya dalam bahasa Prancis. Lalu terlihat wajahnya sedang nyengir diatas super imposisi mobil yang sedang melaju di gurun. Dan kita bisa membaca pesannya: Quand on la voit on la veut. Peugeot 306. Artinya : Jika kau melihatnya, kau akan menginginkannya. Peugeot 306. Suatu pesan yang cerdas, sekilas imajinatif. Tak heran jika iklan ini terpilih sebagai salah satu pemenang utama Eurobest.
Ciri lain dari iklan-iklan Prancis terletak pada kegemaran mereka bermain kata-kata. Ini disebabkan karena bahasa Prancis sangat lentur, liat dan kadang bermakna ganda. Karena itu, iklan-iklan Prancis yang bermain kata-kata jadi terasa segar dan nakal. Kecendrungan bermain dengan kata-kata, mengharuskan perancang iklan di Prancis menguasai tipografi. Bagaimana karakter pesan dapat disampaikan melalui huruf-huruf yang dipilih dalam iklan.
Beberapa iklan Prancis yang menjadi referensi tulisan ini memperlihatkan bahwa tipografi yang dipilih sangat disesuaikan dengan irama pesan. Umumnya membentuk irama yang sesuai karakter Prancis yang romantis itu.
Hal ini terlihat dalam iklan majalh XL yang cukup menggunakan huruf-huruf tulisan tangan, sehingga berkesan tidak terlalu serius, sesuai dengan karakter majalahnya. Hal yang serupa juga terlihat dalam iklan Air France yang menawarkan kemudahan penjualan tiket dan reservasi selama 24 jam untuk penerbangan Paris-New York pulang-balik.
Kembali kepertanyaan basic. Bagaimana iklan diciptakan? Jacques Seguela sebagai wakil terkemuka perancang iklan di Prancis menjawab : through passionate respect. Dengan cara itulah merek mendapatkan rohnya dari perancang iklan. Hanya dengan bekerja keras menjaga nyawanya maka merek dapat melewati batas-batas negara dan menjadi kata yang diucapkan setiap hari di lingkungan keluarga. suatu hal yang tak mudah untuk dilakukan, namun harus dilakukan, karena itulah sesungguhnya tugas perancang sebuah iklan.|Cakram|MGA.


Baca Selengkapnya ....

Tata Krama Periklanan Indonesia

Posted by http://advertisingfashionfurniture.blogspot.com Monday, 7 October 2013 0 comments
ADVERTISING | FASHION | FURNITURE | Tata Krama Periklanan Indonesia
strategi periklanan yang baik
kreatifitas
Periklanan sebagai salah satu sarana pemasaran dan sarana penerangan, memegang peranan penting didalam pembangunan yang dilaksanakan bangsa Indonesia. Sebagai sarana penerangan dan pemasaran, periklanan merupakan bagian dari kehidupan media komunikasi yang vital bagi pengembangan dunia usaha serta harus berfungsi menunjang pembangunan. Demi tanggung jawab sosial dan perlindungan nilai-nilai budaya bangsa yang berlandaskan Pancasila dan UUD 1945, perlu di bentuk pola pengarahan periklanan nasional yang konsepsional. Pola pengarahan periklanan itu harus menunjang asas trilogi pembangunan nasional untuk mencapai masyarakat yang adil dan makmur, termasuk kemajuan dunia usaha, periklanan nasional dan media komunikasi massa.

Adapun asas- asas umum yang manjadi pedoman dasar bagi periklanan di Indonesia antara lain iklan harus jujur bertanggung jawab dan tidak bertentangan dengan hukum yang berlaku dan tidak boleh menyinggung perasaan dan atau merendahkan martabat agama, tata susila, adat, budaya, suku dan golongan. Iklan harus dijiwai oleh asas persaingan yang sehat.

Sedangkan penerapan iklan secara umum, sebuah iklan harus jujur, bertanggung jawab dan tidak bertentangan dengan hukum yang berlaku. Jujur disini ialah iklan tidak boleh menyesatkan, antara lain dengan memberikan keterangan yang tidak benar, mengelabui dan memberikan janji yang berlebihan. Bertanggung jawab, iklan yang tidak boleh menyalah gunakan kepercayan dan merugikan masyarakat.

Iklan tidak bertentangan dengan hukum yang ada, iklan harus mematuhi undang-undang dan peraturan-peraturan pemerintah yang berlaku. Isi iklan merupakan pernyataan dan janji mengenai produk yang dapat dipertanggung jawabkan kebenarannya. Adanya kesaksian konsumen harus dilengkapi dengan pernyataan tertulis berdasarkan pengalaman yang sebenarnya. Nama dan alamat pemberi kesaksian harus dinyatakan dengan jelas dan sebenarnya.
Pencantuman harga pada suatu produk dalam iklan, maka harga harus jelas sehingga konsumen mengetahui barang apa yang akan diperoleh dengan harga tersebut, bila dilakukan suatu perbandingan harga atas satu produk dengan produk lainnya, maka dasar perbandingan tersebut harus sama dan jelas.

Pemakaian kata-kata seperti kata "cuma-cuma" atau sejenisnya tidak boleh dicantumkan dalam iklan, bila ternyata konsumen harus membayar sejumlah uang diluar biaya pengiriman yang sebenarnya. Bila biaya pengiriman ini akan dibebankan kepada konsumen, maka harus dicantumkan dengan jelas.
Adapun janji berupa pengembalian uang atau warranty, apabila suatau iklan menjanjikan pengembalian uang ganti rugi untuk pembelian suatu produk yang ternyata mengecewakan konsumen maka harus memperhatikan hal-sebagai berikut :
  1. Syarat-syarat pengembalian uang tersebut harus jelas dan lengkap dicantumkan. antara lain batas-batas resiko iklan, jenis-jenis kerusakan/kekurangan yang dijamin dan jangka waktu berlakunya pengembalian uang.
  2. Pengiklan wajib mengembalikan uang konsumen sesuai syarat-syarat yang tercantum.

Bila suatu iklan menjamin mutu suatu produk, maka dasar-dasar jaminannya harus dapat dipertanggung jawabkan. Iklan yang baik tidak boleh mempermainkan rasa takut dan kepercayaan orang terhadap tahyul tanpa alasan yang dapat dipertanggungjawabkan.
Iklan dilarang dengan keras menampilkan rangsangan atau membenarkan tindakan-tindakan kekerasan, iklan yang tanpa alasan-alasan yang dapat dipertanggungjawabkan tidak boleh menampilkan adegan-adegan yang berbahaya atau membenarkan pengabaian segi-segi keselamatan, terutuma yang tidak ada hubungannya dengan produk yang diiklankan.

Perlindungan hak pribadi seseorang harus mendapat perhatian dari proses suatu iklan, iklan tidak boleh menampilkan atau melibatkan seseorang tanpa ada persetujuan terlebih dahulu. Ketentuan ini tidak berlaku untuk penampilan masal atau sebagai latar belakang dimana seseorang dapat dikenal, kecuali jika penampilan tersebut dapat dianggap merugikan. 
Iklan yang ditujukan atau mungkin terlihat oleh anak-anak tidak boleh menampilkan dalam bentuk apapun hal-hal yang dianggap  dapat menggangu atau merusak jasmani dan rohani mereka, menggambil manfaat atas kemudah percayaan, kekurangan pengalaman atau kepolosan hati mereka.

Apabila iklan mempergunakan istilah ilmiah dan statistik haruslah tidak menciptakan suatu kesan yang berlebihan. Produk yang diiklankan harus ada kepastian ketersediaannya dipasaran. Iklan yang berkualitas juga tidak boleh menyinggung perasaan dan atau merendahkan martabat agama, tata susila, adat, budaya, suku dan juga golongan. Iklan tidak boleh menyinggung perasaan : Iklan harus berselera baik dan pantas, menggunakan bahasa yang baik dan istilah-istilah yang tepat, dan iklan juga dilarang keras merendahkan dan atau mencemoohkan agama/kepercayaan.
Tata susila serta adat dan budaya bangsa yang ada tidak boleh dilanggar, dalam pelaksanaan suatu iklan juga tidak boleh menyinggung atau mempertentangkan suku/golongan, begitu juga dengan monumen kepahlawanan tidak boleh dipakai untuk iklan secara tidak layak.

Iklan harus dijiwai oleh asas persaingan yang sehat. Penggunaan kata-kata yang berlebihan seperti : "ter", "paling", "nomor satu"  dan sejenisnya tanpa menjelaskan dalam bidang apa keunggulannya itu. Iklan yang baik juga tidak mengadakan perbandingan langsung dengan produk-produk saingannya. apabila perbandingan semacam ini diperlukan, maka dasar perbandingan harus sama dan jelas. Konsumen tidak disesatkan oleh perbandingan tersebut. Merendahkan secara langsung atau tidak lansung produk-produk lain adalah hal yang tabu dan dilarang bagi suatu iklan. Iklan yang kreatif tidak boleh meniru iklan lain sedemikian rupa, sehingga menimbulkan penyesatan. Hal ini meliputi merek dagang, logo, komposisi huruf dan gambar, slogan positioning, cara penampilan dan jingle.|STISI BDG93|




Baca Selengkapnya ....

Mencermati Emosi Konsumen Lewat Riset

Posted by http://advertisingfashionfurniture.blogspot.com Saturday, 13 July 2013 0 comments
ADVERTISING | FASHION | FURNITURE | Mencermati Emosi Konsumen Lewat Riset
Peranan riset dalam pembuatan sebuah iklan
http://advertisingfashionfurniture.blogspot.com
Peranan riset sangat strategis di dalam proses menciptakan sebuah iklan. Ada tiga tahapan riset yang harus dilalui sebuah iklan, sebelum tertayang di Media.
Iklan seringkali memukau para pemirsanya, bahkan kadangkala menggiurkan. Namun pembuatan iklan tidak semudah ketika menikmatinya. Pembuatan iklan mestilah melalui beberapa proses yang cukup serius untuk menanganinya. Bahkan risetpun dilakukan agar iklan tidak hanya indah dan menarik, tetapi juga tepat membidik selera konsumennya, sehingga orang terbujuk untuk mengkonsumsi.
Beberapa tahun yang lalu, sebuah produk teh pernah terpaksa merubah semua konsep iklannya. Padahal sama sekali tidak ada permasalahan dalam pemasarannya, tehnya tetap laku dipasaran. Tetapi setelah melalui sebuah proses riset, kemudian diketahui bahwa konsumen mangaggap iklan teh tersebut sudah kuno dan ketinggalan zaman. Hal ini berbahaya, karena bila konsep komunikasinya tidak sampai, dengan sendirinya produk tersebut nantinya akan ditinggalkan konsumen. Maka selanjutnya konsep komunikasinya diganti dengan konsep komunikasi yang baru dengan memberi gambaran teh tersebut sebagai minuman pelepas dahaga yang alami, sehingga tetap laku dipasaran. Bahkan dengan melibatkan anak muda, iklan itu akan memberi kesan bahwa anak-anak muda pun menyukai minuman tersebut.

Tiga Proses.
Membuat iklan menarik, memang bukan saja milik para kerja kreatif. Bagian risetpun termasuk ujung tombak yang harus tajam di dalam menelurkan gagasan-gagasan konsep komunikasi. Itu sebabnya banyak segi yang harus diperhatikan sebelum sebuah iklan dipajang di media.
Ada tiga proses agar riset dapat memberikan masukan bagi para pekerja kreatif. Proses yang pertama adalah memberikan masukan tentang konsep komunikasi kepada para pekerja kreatif. Bagian riset memberikan gambaran tentang siapa pesaing dari produk baru yang akan beriklan. Kemudian apa keistimewaan serta siapa-siapa saja pembeli produk pesaing tersebut. Misalnya saja untuk produk kopi. Perlu diketahui apa motivasi konsumen memilih kopi merek-merek tertentu, apakah karena aroma, rasa atau yang lainnya. Nah data-data tersebut harus diperoleh melalui proses sebuah survey, riset data termasuk menggali sember data sekunder lainnya.
Proses kedua dalam riset ini disebut tahap pengembangan konsep iklan. Pada tahap ini biasanya memamfaatkan istilah fokus group dengan mengunakan teknik indepth interview. Peserta fokus group diajak berdiskusi tentang rancangan naskah, visual atau skenario iklan yang akan dibuat. Kelompok diskusi ini terdiri dari orang-orang yang dianggap sebagai kelompok sasaran yang akan dibidik oleh iklan tersebut. Kelompok ini memang homogen, tetapi pada kasus-kasus tertentu, sering juga diundang konsumen produk pesaing.
Konsep-konsep yang telah diuji oleh sebuah kelompok, biasanya diuji kembali dengan kelompok lainnya. Hal ini dilakukan agar kelemahan serta kelebihan dari suatu konsep dapat terungkap dengan lengkap. Biasanya setelah diuji, tidak bergeser banyak dari konsep semula. Konsep yang sudah teruji, akan dites lagi menjelang eksekusi. Untuk tes ini digunakan data kuantitif. Teknik ini digunakan untuk mendapatkan gambaran seberapa banyak konsumen dapat menyerap iklan yang kita buat. Responden biasanya diberikan kesempatan untuk memilih dari beberapa rancangan iklan yang seudah dibuat. Setelah itu responden memberikan catatan tentang semua kelemahan serta kelebihan dari konsep tersebut.
Setelah sebuah iklan ditayangkan dan dapat dinikmati oleh para calon konsumen, bukan berarti proses riset sudah selesai. Evaluasi terus dilakukan. Inilah proses ketiga yanag harus dilewati  sebuah iklan. Begitu seterusnya. Evaluasi sangat dibutuhkan, karena sering sekali konsep komunikasi yang disampaikan lewat iklan yang pertama tidak sampai kepada para konsumen. Dalam merancang sebuah konsep iklan memperhatikan emosi konsumen diperlukan keahlian khusus, karena itulah posisi riset kreatif menjadi strategis didalam proses menciptakan sebuah iklan. Terutama ketika mendalami pengenalan tentang emosi konsumen. Apalagi dalam situasi sekarang, ketika konsumen dihadapkan dengan lebih banyak pilihan. Sebuah iklan harus dirancang dengan kejelian untuk melihat selera konsumen, yang kemudian diselaraskan dengan kelebihan yang dimiliki sebuah produk.


Baca Selengkapnya ....

Pelecehan Aspirasi Masyarakat dalam Periklanan Indonesia

Posted by http://advertisingfashionfurniture.blogspot.com Saturday, 6 July 2013 0 comments
ADVERTISING | FASHION | FURNITURE | Pelecehan Aspirasi Masyarakat dalam Periklanan Indonesia
Pelecehan Aspirasi Masyarakat dalam Periklanan Indonesia
http://advertisingfashionfurniture.blogspot.com
Apabila diamati dengan benar iklan yang disodorkan kepada masyarakat setiap hari baik yang ditayangkan melalui media layar kaca, audio, media cetak serta yang dipampang dipinggir-pinggir jalan, maka tidak jarang akan menimbulkan pertanyaan-pertanyaan pada diri kita. Apakah pola pikir atau persepsi yang timbul didasarkan pada pengetahuan yang kita miliki mulai tidak benar? atau sebaliknya iklan-iklan yang tersebar memanipulasi aspirasi masyarakat?
Dapat dibayangkan keheranan disaat menghadapi iklan perumahan yang menyatakan bahwa "dari lokasi cukup membutuhkan waktu 10 menit untuk mencapai Monas". Sementara letak lokasi berada di Pasar Jumat yang kita semua tahu jaraknya lebih dari kurang 16 kilometer ke Monas, dan dengan kondisi kepadatan lalu-lintas Jakarta, pengalaman masyarakat dapat menempuh jarak tersebut dengan waktu 40 menit sudah sangat beruntung.
Atau iklan saripati ayam sebagai food supplement, yang dengan gencar meng-klaim mampu memulihkan kesehatan dan khasiat lain seolah-olah sebagai obat. Sementara komposisi atau kandungan yang ada didalamnya 93% air, 5,7% protein, yang tentunya berdasarkan pengetahuan yang kita miliki tidaklah mugkin produk dengan komposisi tersebut mempunyai khasiat sebagaimana yang diklaim oleh iklannya.
Dibangku sekolah masyarakat memperolah pengetahuan bahwa pertumbuhan tinggi badan kita terjadi karena adanya hormon Somatotropin yang diusia 17-19 tahun hormon tersebut tidak lagi diproduksi sehingga pertumbuhan tinggi badan berhenti di usia tersebut. Tapi apa kata iklan alat peninggi badan yang menyatakan mampu menambah tinggi badan satu cm setiap 1-2 bulan. dengan menggunakan alat tersebut (tanpa menyebut batas usia). Dan setelah dilihat alatnya hanya berupa tali untuk melakukan loncat-loncatan.
Uraian diatas hanya sekelumit contoh iklan yang betapa telah melecehkan aspirasi masyarakat. Iklan semacam ini mungkin sangat mempengaruhi dan mampu menarik konsumen yang kurang kritis dan terpengaruh emosi. Tapi di tengah masyarakat yang pendidikannya semakin meningkat, pola pikir kritis sudah menjadi bagian dalam kehidupannya, maka mereka tidak akan lagi mau menoleh pada iklan-iklan yang telah memanipulasi kebenaran dan melecehkan pengetahuan masyarakat serta membodohi itu.
Apabila hal ini telah terjadi, sungguh menyedihkan dunia periklanan kita. Apa yang menjadi tujuan pengusha beriklan, mempromosikan dagangan dengan cara menyampaikan informasi mengenai produk tidak akan tercapai karena masyarakat sudah tidak lagi menganggap dan memperhatikannya.
Gejala ketidak pedulian masyarakat telah mulai tampak, bahkan iklan di televisi sudah dianggap sebagai bagian dari hiburan yang dilihat sambil lalu, apalagi bila iklan tersebut gencar ditayangkan di sela-sela acara yang diminati masyarakat, maka yang timbul bukannya simpati dan keinginan untuk membeli tetapi justru antipati. Hal-hal semacam ini mestinya diperhatikan dan diteliti oleh pengusaha apabila tidak menginginkan adanya dampak negatif.

Mengapa terjadi pelecehan aspirasi masyarakat 

Ada beberapa hal yang menjadi penyebab pelecehan aspirasi masyarakat dalam periklanan Indonesia, antara lain:

1. Pendesign Iklan.
  • Pendesign iklan hanya melihat bahwa iklan adalah suatu kreasi seni.  Oleh sebab itu persyaratan utama yang diperlukan setiap pendesign iklan adalah kemampuan atau kepekan art.
  • Pendesign iklan kurang bahkan sama sekali tidak mempunyai pengetahuan barang, terutama yang berkaitan dengan produk yang diiklankan.
  • Pendesign iklan hanya berpegangan pada informasi yang datangnya dari pengusaha.
  • Pendesign iklan kurang memahami kode etik periklanan.
  • Persaingan yang ketat atau terpaksa diantara pendesign iklan sehingga mereka bersedia atau terpaksa mengorbankan prinsip-prinsip beriklan yang benar.
2. Bintang Iklan.
  • Bintang iklan tidak mempunyai pengetahuan barang,  baik menyangkut komposisi, efektifitas, efek samping, serta cara mempergunakan.
  • Karena tidak mempunyai pengetahuan barang bersedia untuk berperan sebagaimana yang diminta sutradara.
3. Media Massa.
  • Media massa kurang melakukan seleksi atau penilaian suatu iklan yang akan dipublikasikan.
  • Kurang memahami dan memperhitungkan dampak yang akan ditimbulkan oleh suatu iklan di masyarakat.
  • Persaingan antara media massa untuk menigkatkan pendapatan dan keuntungan melalui iklan.
4. Instansi Pemerintah.

Kurangnya pengawasan terhadap iklan yang beredar di masyarakat dan tidak adanya sanksi hukum yang jelas serta denda yang harus dibayarkan kepada konsumen yang dirugikan, menjadikan adanya kecendrungan pendesign iklan untuk berimprovisasi sesuai dengan kepentingan pengusaha dan tidak bertanggung-jawab kepada konsumen.|Zumrotin K.Susilo|



Baca Selengkapnya ....
Referral Banners