2captcha

Antara Emosi dan Konsumsi

Posted by http://advertisingfashionfurniture.blogspot.com Sunday, 13 April 2014 0 comments
ADVERTISING | FASHION | FURNITURE | Antara Emosi dan Konsumsi
ilustrasi emosi dan konsumen
Emotional Quadrants
Emosi ternyata mempengaruhi kebiasaan konsumsi. Seseorang yang sedang kecewa bisa saja melampiaskan kekecewaannya itu dengan makan enak di restoran, mabuk-mabukan, atau bagi umumnya perempuan, berbelanja secara kompulsif. Penelitian yang membuktikan hubungan antara emosi dan konsumsi ini sudah berlangsung sekitar dua dekade terakhir.
Setiap orang memang memiliki rentang emosional yang bisa menjadi sangat bahagia atau senang, hingga menjadi sangat sedih atau kecewa. Meski umumnya tak banyak yang berada di kedua ekstrim itu, Larsen dan Diener (1987) menemukan bahwa umumnya 30 persen hingga 50 persen konsumen berada di atas atau di bawah angka tengah dari kedua ekstrim itu.
Hal yang penting semacam kehilangan pekerjaan atau perceraian, atau hal positif yang juga penting seperti kenaikan pangkat atau perkawinan, dapat menimbulkan peralihan dari nilai tengah dari kedua ekstrim tersebut dalam waktu yang cukup panjang. Sementara hal-hal kecil yang menyenangkan atau menyebalkan seperti iklan yang menarik atau wiraniaga yang mengesalkan, hanya mempengaruhi emosi dalam waktu beberapa menit. 
Emosi yang tercipta mempengaruhi sejumlah respon koqnitif seseorang, seperti dalam pembentukan sikap dan recall. Juga mempengaruhi perilaku konsumsi seperti impulse buying, kreatifitas dalam mengkonsumsi dan tindakan inovatif. Hal ini dipengaruhi oleh norma-norma budaya seseorang. Meskipun secara emosional tertekan, misalnya, tidak banyak perempuan Indonesia yang mabuk-mabukan, karena norma-norma budaya tidak mendukung hal itu.
Menyadari kenyataan semacam ini menjadi penting untuk mengetahui bagaimana emosi mempengaruhi efektifitas iklan. Edell dan Burke (1987) memperlihatkan bahwa perasaan (feeling) yang dibangkitkan oleh suatu iklan merupakan suatu konsep yang berbeda dengan pemikiran (thoughts) mengenai iklan, keduanya sama pentingnya dan berkontribusi secara unik dalam menjelaskan dampak dari iklan.
Ini berarti perasaan (mood) seseorang dan pemikiran (kognisi) bisa saling mempengaruhi saat seseorang menikmati dan merespon pesan-pesan iklan. Disini ternyata orang yang tidak memiliki pendekatan yang sama dalam melakukan respon emosional terhadap suatu iklan. Iklan yang bagi seseorang yang terasa menarik, bagi orang yang lain bisa saja membosankan.
Perasaan ternyata dapat terbentuk karena pengaruh berita atau program di mana iklan itu dipasang.

Kuadran Emosi
Untuk mengetahui kondisi yang mungkin dari emosi konsumen, Hirschman dan Stern (1999) mencoba memetakan kondisi emosi seseorang dalam empat kuadran :
(1). Konsumsi Tenang (Calm Consumption). Kuadran A mewakili kandungan emosi dengan afeksi positif dan arousal rendah: Kepuasan, ketenangan, dan ketentraman. Umumnya konsumen hidup direntang emosi ini dari waktu ke waktu. Dalam konteks ini konsumen akan bersifat loyal terhadap merek berdasarkan kepuasan terhadap produk atau jasa yang mereka konsumsi. Karena level arousal rendah, mereka tidak memiliki energi untuk bertualang dan mencari variasi dalam kegiatan konsumsi. Kecendrungannya mereka juga tidak terlalu suka meloakukan komplain ataupun menyatakan rasa tidak puas secara terbuka.
(2). Konsumsi Aktif. Di kuadran B ada sejumlah perasaan semacam, exuberance, delight, ecstasy dan elation, yang terpengaruh level arousal yang tinggi dalam rentang emosi positif. Karena kondisi mental berpengaruh terhadap penciptaan kegembiraan dan berhubungan dengan stimulus dari aktivitas fisik dan kognitif, maka banyak konsumen yang mengalami emosi positif yang kuat akan merasa secara mental dan fisik sangat enerjik. Konsumen yang berada dalam kuadran ini akan bersifat otimistis terhadap perilaku konsumsi dan antusias dalam upaya mengalami hal-hal yang menyenangkan.
(3) Konsumsi Pasif. Memasuki kuadran C, Konsumen yang berada di kelompok ini mengalami level arousal yang rendah dilengkapi dengan emosi yang negatif. Kuadran ini mewakili emosi ketidakberdayaan, melankolis dan putus asa, sehingga dapat disebut juga sebagai konsumen sedih, yang bereaksi sebagai konsumen pasif. Konsumen dalam status emosi semacam ini tidak mempunyai banyak pilihan dan bersifat sangat pesimistis terhadap kegiatan konsumsi. Mereka cendrung tidak suka mencoba produk atau jasa yang baru dan sangat rendah kemungkinannya mencari variasi produk. Karena itu mereka cendrung akan menjadi loyal terhadap merek yang mereka pergunakan serta pola belanja yang biasa mereka lakukan.
(4) Konsumsi Pemarah. Selanjutnya di kuadran D kita memasuki tingkat arousal yang tinggi dimana emosi sangat terganggu bahkan sampai ketahap paranoia. Meskipun demikian, kondisi marah dan ketidaknyamanan bisa membangkitkan dorongan untuk melakukan konsumsi terhadap produk yang dianggap dapat membuat mereka tenang. Misalnya, saat mengalami penundaan penerbangan, mobil mogok, restoran mahal namun layanannya sangat buruk, dan seterusnya. Kondisi semacam ini cukup sering terjadi, ketika konsumen menjadi sangat marah, dan bahkan memaki pelayan atau petugas jasa yang melayaninya. Kondisi emosi yang marah dan paranoia semacam ini pula yang mendorong orang melakukan konsumsi obat-obatan, alkohol, makan dan berbelanja secara berlebihan.

Baca Selengkapnya ....

Merebut Konsumen di Toserba

Posted by http://advertisingfashionfurniture.blogspot.com Wednesday, 12 March 2014 0 comments
ADVERTISING | FASHION | FURNITURE | Merebut Konsumen di Toserba
http://gii-onlineshopping.blogspot.com
Ketika Desert Spice, produk parfum Revlon muncul di Indonesia, maka perusahaan itu merancang point of sale (POS) yang menarik perhatian, dilengkapi dengan demo perawatan kecantikan.
Saat produk itu masuk ke Indonesia, Cindy Crawford baru saja menjadi bintang iklan Revlon. Model terkenal itu yang kecantikannya menjadi idaman banyak wanita dan pria, dengan alasan yang berbeda-beda tentu saja diharapkan dapat mendorong konsumen menjadi pembeli produk setia Revlon.
Maka, saat Desert Spice diluncurkan, fotonya yang besar terpajang di gerai (outlet) Revlon. Dengan penampilan foto Cindy yang dominan itu, maka pengunjung tidak bisa pasti tertarik untuk memperhatikan ataupun singgah di gerai Revlon. Dilengkapi pula dengan demo kecantikan, maka Revlon pun dapat memperkenalkan produknya langsung kesasaran. 
Ini memperlihatkan bahwa POS sangat penting untuk diperhatikan, Pemasar yang akan meluncurkan produk baru, pasti akan mempersiapkan materi POS agar produk yang dijual dapat tampil dan menarik perhatian khalayak sasarannya. Dan semuanya ini dimulai dari kemasan, rak, poster hingga cara menjajakan produk.
Menurut Michael Wahl, Chairman Howard Marlboro Group (HMG), dekade terakhir abad ini memperlihatkan pentingnya memenangkan pertempuran di gerai dan pertokoan. "Orang kini kian terburu, keputusan untuk membeli produk saat berada di toko terus meningkat" katanya.
Dengan mengolah secara serius seluruh aspek POS, maka pemasaran produk dapat ditingkatkan. Kasus produk pantyhose L'eggs dapat menjelaskan hal itu. Produk yang ditujukan pada wanita itu terbungkus dalam kemasan berbentuk telur -sesuai dengan namanya- dan telah bertahan di pasar selama lebih dari 20 tahun. Bentuknya yang unik menjadikannya sebagai bentuk kemasan terkenal seperti halnya botol orisinal Coca-Cola.

Berawal dari Kemasan
Namun di pertengahan tahun 1991, L'eggs memutuskan untuk mengubah kemasannya yang sangat terkenal itu. "Dengan menjaga bentuk telur yang telah sangat dikenal, dalam upaya merespon preferensi konsumen terhadap kemesan yang lebih progresif, kontemporer dan memudahkan (konsumen) dalam berbelanja." begitu siaran pers L'eggs.
Kemudian dilanjutkan, "Sebagai manfaat tambahan, kemasan yang baru akan dibuat dari karton sehingga dapat didaur ulang, begitu pula dengan seluruh material produknya."
Semuanya ini dilakukan setelah L'eggs menhgadapi serangan serius dari kompetitor, pengecer dan kebiasaan baru darikonsumen. Masalah memang mulai muncul sejak proses produksi hingga ia dipasarkan di gerai toko. Itu antara lain meliputi :
  • Terbatasnya tempat bagi grafis desain karena bentuk telurnya untuk dapat menjelaskan merek, warna dan ukuran produk.
  • Karena bentuknya pula maka sulit untuk membaca label jika L'eggs diletakkan di bagian bawah rak.
  • Efisiensi penggunaan ruang saat pengiriman dan displai menjadi berkurang.
  • Plastik menimbulkan kesan berdampak negatif terhadap lingkungan.
  • Tak mampu mengemas produk secara otomatis.
  • Biaya material yang tinggi.

Sebelumnya, hal itu masih belum menjadi masalah besar karena penjualan masih cukup tinggi dan pesaing yang lebih agresif belum banyak bermunculan. Namun perubahan itu harus dilakukan demi sebuah kata : "Shoppability."  

Untuk melakukan perubahan mendasar bagi L'eggs, maka HMG melakukan apa yang disebut sebagai audit foto. Beragam jenis kemasan diperhatikan dan diteliti."Tak hanya kemasan hoisery namun segala jenis kemasan. Dari sana ternyata tak satupun yang dapat memberikan gambaran uang cocok bagi kemasan L'eggs.
Alhasil harus dirancang suatu desain yang sederhana, sebuah kemasan karton yang dapat mencapai objektif yang ditetapkan. Dengan pendekatan semacam ini berhasil diperoleh delapan bentuk kemasan, yang kemudian diuji melalui suatu fokus group. Berdasarkan hasil fokus group itu jumlah kemasan yang terpilih menjadi bertambah kecil. Hasilnya kemudian kembali diuji melalui laboratorium pengujian situasi pasar. Ini dilakukan untuk mengetahui bagaimana kebiasan dan reaksi konsumen terhadap kemasan yang disusun di tempat displai.
Suatu pengujian volumetrik dilakukan untuk mengetahui efisiensi kemasan dalam pengiriman maupun saat didisplai digerai-gerai. Konsumen ternyata memilih kemasan yang baru dengan perbandingan dua banding satu. Mereka juga menyebutkan atribut khusus yang menurut mereka sangat membantu :
  • Mudah dalam berbelanja.
  • Secara keseluruhan berkesan menarik.
  • Cocok dan tak menghilangkan karakter L'eggs.
  • Menyimbolkan produk berkualitas tinggi.
  • Bersahabat dengan lingkungan.

Hampir dua pertiga konsumen yang diselidiki menyatakan bahwa desain kemasan baru memudahkan dalam berbelanja. Lebih 90% konsumen bahkan merasakan pentingnya material yang dapat didaur ulang. Namun terobosan yang sesungguhnya terletak pada bentuk kemasan yang memungkinkan kami mencetak informasi dikubah kemasan baru.

Dalam kemasan baru, informasi produk dapat disampaikan melalui huruf-huruf yang mudah dibaca. Dengan demikian konsumen dapat mengetahui warna dan model produk dengan mudah. Di sisi lain, terebosan yang dilakukan tidak keluar dalam strategi penjualan toko; bahwa: nama, kemasan dan displai dapat bekerja sama sebagai suatu kesatuan. Maka L'eggs berhasil tampil lebih segar, berwawasan ke masa depan dan berhasil menarik perhatian konsumen, sehingga kembali tetap digemari. Begitulah kiat yang dilakukan dalam memenangkan pertempuran di gerai pertokoan. |cakram media indonesia|



Baca Selengkapnya ....

Proses Pembuatan Iklan yang Baik

Posted by http://advertisingfashionfurniture.blogspot.com Saturday, 8 March 2014 0 comments
ADVERTISING | FASHION | FURNITURE | Proses Pembuatan Iklan yang Baik
stabilo
http://www.vector-eps.com
Secara mendasar, sebelum membuat sebuah kampanye periklanan, sebuah biro iklan harus mengetahui, mendalami, dan menguasai marketing mix dari sebuah produk, merek, atau jasa yang akan diiklankan. Karena, sebuah iklan selalu dan harus berawal dari produknya sendiri.
Pengetahuan akan 'Product/Brand Information' sangatlah dibutuhkan. Fungsi dan kegunaannya, harganya, kelebihan dan kekurangannya, status, pesaing, daerah distribusi, dan siapa sasaran pemakainya. Pengetahuan tentang keadaan pasar, tren yang berlaku, pelaku-pelaku pasarnya, persaingan, siapa saja pemakai dan calon pemakainya.
Pengertian dan analisa yang mendalam dari sasaran pakainya. Bukan hanya secara geografi dan demografinya saja, akan tetapi juga dari segi psikologi ditambah dengan pengetahuan tentang kebiasaan-kebiasaan mereka sehari-hari. Semakin spesifik targetnya, akan semakin fokus mengkomunikasikan pesan yang akan disampaikan.
Positioning dari produk tersebut haruslah di identifikasikan secara cermat dan spesifik, dengan mengkaitkannya dengan sasaran pasarnya.
Setelah keseluruhannya dikuasai, barulah kreatifitas yang tinggi dan terarah dapat berperan. Kreatifitas tidak saja hanya dibutuhkan dalam hal berkreasi ( design, layout, script, production, etc ), tetapi juga dibutuhkan dalam pemilihan media untuk pemuatan iklan yang bersangkutan. sehingga akan tercipta sebuah iklan yang efektif, efisien, dan tepat sasaran.

Biaya atau Investasi
Ada perbedaan pendapat antara beriklan merupakan beban biaya atau merupakan investasi. Banyak teori yang berkata bahwa beriklan bukanlah merupakan biaya; tetapi pihak lain mengatakan bahwa beriklan adalah biaya. Bagi seorang akuntan, beriklan adalah biaya, sedangkan bagi seorang manajer pemasaran, beriklan mungkin dilihat sebagai investasi. Tinggal dari kacamata mana kita melihatnya.
Jika ditelaah kata biaya ( expense ) dan investasi, maka dapat dijabarkan secara umum bahwa perbedaan yang mencolok dari kedua istilah tersebut :
Biaya - dana yang dikeluarkan sekarang untuk menghasilkan 'penjualan' dan yang 'hasilnya' harus dapat dirasakan secara cepat dan langsung.
Banyak advertiser, yang jika usahanya mengalami penurunan, akan langsung memotong/berhenti beriklan, sebagai ' penghematan' biaya. Akan tetapi, besar kemungkinan 'penghematan' tadi malahan akan mempercepat penurunan usahanya.
sedangkan investasi adalah dana yang ditanamkan sekarang. untuk kini atau keuntungan dimasa mendatang. Maka dalam hal ini, perencanaan anggaran beriklan haruslah betul-betul direncanakan, sejalan dengan objektif dan strategi pemasaran, dan dengan situasi dan kondisi yang terkait dengan kategori produknya.
Iklan memang dapat mengurangi keuntungan, akan tetapi iklan dapat merupakan faktor penunjang dan penentu pada keuntungan yang besar. Sedangkan dari kacamata konsumen ( penerima berita ). Iklan dapat dilihat sebagai faktor yang menyebabkan harga sebuah produk/jasa menjadi mahal. Hal ini dapat terjadi apabila kepuasan mereka tidak terpenuhi dan barang atau jasa yang ditawarkan tidaklah seperti yang diiklankan.

Baca Selengkapnya ....

Peran Periklanan dalam Pemasaran

Posted by http://advertisingfashionfurniture.blogspot.com Friday, 7 February 2014 0 comments
ADVERTISING | FASHION | FURNITURE | Peran Periklanan dalam Pemasaran
Periklanan sangat berperan didalam distribusi pemasaran dewasa ini, yang kondisinya sudah over communicated. Sebagai bauran promosi dalam bauran pemasaran, maka jasa periklanan akan selalu dibutuhkan. Melihat kebutuhan tersebut, maka jasa desainer grafis sebagai bagian dari pelaku dalam jasa periklanan, harus memiliki wawasan dan pandangan yang luas dalam masalah pemasaran. Diharapkan dengan hal tersebut maka seorang desainer grafis mampu mengantisipasi kemajuan-kemajuan dalam bidang pemasaran. 


Seperti diketahui bahwa periklanan adalah merupakan bauran dari promosi (promotion mix), dimana promosi adalah jalur distribusi pemasaran. Artinya suatu pemasaran produk tertentu akan selalu menggunakan bauran promosi sebagai media untuk menghubungkan produsen dengan konsumen. Sebagai media penghubung, maka periklanan dapat juga dikatakan sebagai ujung tombak komunikasi pemasaran. Mengapa demikian?, Pertama karena subuah iklan dibuat untuk mengkomunikasikan citra yang dimiliki oleh satu perusahaan/produk bukan hanya menaikkan angka penjualan. Citra adalah aset yang paling berharga; yang seringkali menjadi faktor penentu keputusan membeli. Kedua iklan membentuk anggapan dalam benak konsumen tentang satu produk/perusahaan, karena iklan menguraikan fakta-fakta, bukan janji-janji. Ketiga iklan membangun positioning. Positioning adalah satu proses untuk menempatkan suatu produk, merek, perusahaan, individu, atau apa saja dalam alam pikiran konsumen.


Dari uraian ditas dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa peran periklanan dalam satu pemasaran produk/jasa sanggatlah penting. Karena dengan jalur promosi tersebut, satu produk/jasa dapat sampai kepada konsumen dengan jelas, yakin akan kegunaan dan kelebihan produk/jasa dan konsumen merasa terpenuhi kebutuhan serta harapannya.

Perencanaan Kreatif dan Media Periklanan.

Setelah mengetahui hubungan antara periklanan dengan pemasaran, maka langkah selanjutnya adalah mengenai perencanaan kreatif dan media periklanan. Langkah ini dirasa perlu karena perencanaan ini adalah hal yang menjelaskan hubungan tersebut.
  • Perencanaan Kreatif Periklanan bagi Pemasaran : Kalau kita berbicara soal komunikasi kreatif pada dasarnya pendekatan yang dilakukan harus berpedoman pada pendekatan "5W" yaitu : Who, What, Whom, Which, What effect Siapa yang mengatakan apa kepada siapa, melalui saluran/media apa dan dampak apa yang diinginkan ) Pendekatan ini memudahkan kita untuk menganalisa pasar sasaran dan menentukan strategi komunikasinya. Pendekatan ini harus ditunjang pula dengan kondisi produsen yang akan diiklankan. Maka kita harus melakukan observasi yang mencakup : a. Bagaimana Tahap dan Perkembangan Produsen? : Pioneering. Apakah industrinya masih dalam tahap dini, artinya produknya baru. Competitive. Pada tahap ini pasar telah berkembang akan tetapi pesaing sudah mulai banyak sehingga strategi pangsa pasar dan positioning menjadi penting. Retentive. Pada tahap ini pasar sudah jenuh sehingga perlu diadakan peremajaan atas produk. : b. Siapa Pesaingnya? : Disini kita harus mengkaji apakah pesaing yang lebih dulu ada dipasaran sudah established atau belum, apakah produknya berkualitas, siap pemakainya, mengapa mereka, bagaimana distribusinya, seberapa berkualitas dan gencar iklannya. : c. Siapa Calon Konsumen Kita : Hal yang harus dikaji adalah tentang ciri karakteristik calon sasaran konsumen, motivasi dan pola belinya. : d. Apa Kelebihan Produk Kita? : Apabila semua telah dikaji maka tahap terakhir adalah menganalisa produk kita, pertama : Apakah produk kita punya USP ( Unique Selling Proposition ) atau kelebihan dibanding  pesaingnya, Kedua : Apakah produk kita dibutuhkan, Ketiga : Bagaimana peluang produk kita di pasar. Hal yang penting dalam proses perencanaan kreatif periklanan adalah menentukan positionong. Hal ini sangat penting sebab dalan era pemasaran dewasa ini, kondisi pasar sangat kompetitif. Konsumen setiap harinya disodori bermacam-macam informasi sehingga kondisi pasar menjadi over communicated. Formulasi positioning didapat dari gaya hidup dan perilaku konsumen yang bersifat psikologis.
  • Perencanaan Media Periklanan bagi Pemasaran : Perencanaan media periklanan yang baik harus terintegrasi ke dalam seluruh kegiatan pemasaran dari produk yang bersangkutan. Adapun komponen-komponen perencanaan media antara lain : a. Sasaran Media : Sasaran media haruslah dinyatakan dalam kalimat yang jelas, layak dan dapat diukur yang senantiasa mengacu kepada sasaran pemasaran, yang meliputi : a. Intensitas iklan yang dinyatakan dalam satuan ukuran tertentu, misalnya : Jangakauan ( Reach ), Eksposure dan atau tingkat bobot iklan ( Gross Rating Points ). b. Dibatasi oleh satuan waktu ( minggu, bulan atau tahun ). c. Dinyatakan dalam definisi demografis yang jelas ( sex, usia, tingkat sosio-ekonomi dan wilayah ). d. Layak dalam pengertian dapat dicapai. b. Strategi Media : Strategi media merupakan suatu cara yang dipilih untuk mencapai sasaran media. strategi ini meliputi hal-hal sebagai berikut : a. Menetapkan jenis media yang akan digunakan ( Tv, surat kabar, majalah, radio, bioskop, billboard dll ). b. Mempertimbangkan pemilihan media berdasarkan efektifitas jangkauan dan efesiensi dari segi budget untuk menjangkau setiap 1000 khalayak sasaran ). c. Taktik Media : Taktik media disebut juga program media atau implementasi media yang menyangkut hal-hal sebagai berikut : a. Macro Scheduling : Pola intensitas iklan dan periode kompanye. b. Micro Scheduling : Program media Tv dan Radio serta posisi penempatan iklan pada media cetak dan bioskop, ukuran iklan berwarna atau hitam putih serta waktu penayangan. d. Anggaran : Salah satu bagian terpenting dalam perencanaan media adalah anggaran atau sejumlah dana yang layak untuk menyelenggarakan kegiatan periklanan. Anggaran disebut layak apabila dapat memenuhi salah satu kriteria berikut ini : a. Anggaran yang di alokasikan harus cukup untuk mencapai sasaran periklanan/pemasaran. b. Anggaran yang dialokasikan dapat memenuhi suatu tingkat keuntungan yang maksimum terhadap produk yang diiklankan.
Gambaran diatas merupakan konsep-konsep dasar pemasaran dan kaitannya dengan periklanan, ( al ries dan Jack Trout, Positioning, the Battle for Your Mind, New York Mcgraw Hill, 1981, 31 ).   





Baca Selengkapnya ....

Strategi Hunting Client

Posted by http://advertisingfashionfurniture.blogspot.com Sunday, 19 January 2014 0 comments
ADVERTISING | FASHION | FURNITURE | Strategi Hunting Client
lingkaran
http://logos.co

apa itu client?...Client adalah pelanggan. Menurut pendapat umum, client adalah raja. merujuk kepada pendapat David Ogilvy, dengan strategi yang kita kenal antara lain :
  1. Bagaimana mencari pelanggan.
  2. Bagaimana mempertahankan pelanggan.
  3. Bagaimana menjadi langganan yang baik.
Disini ditekankan bahwa mencari klien/hunting client adalah merupakan keterlibatan antara agency dengan klien. Bagi agency sendiri, ada beberapa syarat yang harus dipenuhi, yaitu:

  • Harus punya penghubung yang kuat dengan klien. Dalam hal ini peranan seorang AE ( Account Executive ) dituntut untuk energik, mempunyai kemampuan lobying yang kuat dan tentu saja kualitas yang handal. Dalam benaknya hanya ada satu tekad, "saya harus mendapatkan klien ini".
  • Harus punya tim kreatif yang jitu. Dewasa ini banyak biro iklan besar mengalami keadaan "mati enggan dengan hidup tidak mampu" alias sekarat. Salah satu sebabnya adalah departemen kreatif-nya hanya menghasilkan iklan-iklan rutin yang membosankan, namun merasa diri tetap besar oleh keberhasilan yang pernah diraih sebelumnya.
  • Penempatan Media yang ampuh. Seorang media planner yang jeli. harus dapat secara efektif menyusun budget periklanan sesuai dengan kondisi klien. Faktor-faktor pendukung seperti data-data pasar, produk, ataupun hasil riset yang diperlukan dalam menyusun strategi pendekatan harus dapat dipertanggung jawabkan kepada klien.
Mari kita buka hati dan pikiran yang jernih. Secara sederhana, sesungguhnya selama ini kita berperan sebagai "salesman". Sebagai salesman yang baik, kita harus tahu karakter pelanggan kita, termasuk pula kesenangannya. Kalau klien kita suka musik, kita harus melakukan pendekatan lewat musik. Kalau golf yang dia minati, kitapun harus mengikutinya. Jangan pernah kita bicara hal-hal yang tak disukai klien kita. "Salesman yang baik, harus selalu berpedoman kepada prinsip-prinsip :
  1. Jika kita baik selaku salesman atau AE tidak mempunyai waktu untuk menjual/hunting maka orang lainpun tidak punya waktu untuk membeli/menjadi klien kita.
  2. Jika kita tidak yakin dengan apa yang kita jual/sajikan, maka sulit bagi orang lain untuk juga yakin seperti yang kita harapkan.
  3. Jika kita gagal mempersiapkan, maka berarti pula kita telah mempersiapkan kegagalan.
  4. Kita harus melakukan segala hal yang kita inginkan secara mati-matian. Try, try again and tray some more.
  5. Keberhasilan tak pernah datang sendirinya.
  6. Jangan takut gagal, dan jangan melakukan kegagalan yang sama.

Dari pengalaman, maka klien yang sudah kita dapatkan harus dijaga dengan baik dengan cara yang profesional, dalam pengertian bahwa pelayanan kita dapat dipertanggung jawabkan. Yang diperlukan oleh biro iklan adalah 'motor penggerak' yaitu kemampuan untuk berkreasi, ambisi yang konstruktif, dan gairah. Akhirnya, keberhasilan tak dapat terbendung. Selamat bekerja, hari esok harus kita hadapi dengan optimisme yang tinggi.



Baca Selengkapnya ....
Referral Banners